SAYA JUGA BISA MENDISAIN

Entah mengapa saya tidak marah ketika seseorang yang baru saya kenal dengan santai menyatakan pada saya kalau dia juga bisa mendesain. Yang dia maksud tentu mendesain bangunan. Menurutnya, dia bisa mendesain dengan tangan dan ingin belajar mendesain lewat media komputer. Awalnya pertanyaannya saya dalam hati, apakah dia tahu arti kata desain. Dia sama sekali tak memiliki ijasah atau ketrampilan yang ada hubungannya dengan dunia desain. Tetapi ketika pulang ke rumah, pertanyaan lebih serius muncul di kepala saya. Apa sih yang selama ini sudah dilakukan oleh para arsitek sehingga orang yang bukan arsitek merasa juga bisa melakukan pekerjaan mereka?

Tiga puluh tahunan ini arsitek sebagian besar bergantung pada pekerjaan pemerintah. Kalau ada yang bekerja di luar itu, mereka akan melayani pekerjaan-pekerjaan swasta yang berkaitan dengan ruko dan bisnis-bisnis sejenis. Beberapa di antara mereka melayani orang-orang kaya yang punya banyak uang dan ingin membuat rumah mewah. Karena proyek pemerintah membayar arsitek berdasarkan persentase, di dunia swasta arsitek juga sibuk berjuang dengan menuntut hak yang setara. Kita hampir lupa untuk mencerdaskan masyarakat bahwa tugas arsitek untuk menciptakan lingkungan buatan yang aman dan nyaman bagi manusia.

Semangat pembangunan pemerintah yang sangat tinggi membuat jumlah rupiah milik negara yang beredar di kalangan arsitek sangat besar. Berbagai regulasi untuk menjaring mereka dalam kompetisi berebut peluang sering membuat pengelola proyek tidak selalu beruntung mendapat arsitek yang pantas untuk proyek yang mereka kelola. Padahal, aparat pemerintah yang mengelola juga biasanya seorang arsitek atau paling tidak dari dunia keteknikan. Persoalan yang muncul adalah ketika sebagai aparat mereka harus memberi imbal jasa untuk kualitas pekerjaan yang tidak lebih baik dari yang bisa dilakukan oleh pengelola proyek. Mereka menggunakan arsitek karena peraturan diterjemahkan mereka mengharuskan demikian. Padahal logika menyatakan bahwa kita menggunakan arsitek karena kita tidak mampu melakukan pekerjaan tersebut. Kita membayar mereka untuk mengerjakannya bagi kita. Dua buah dasar pertimbangan yang sangat berbeda!

Situasi yang dihadapi oleh para pengelola proyek dengan disiplin keilmuan arsitek kemudian menimbulkan keinginan untuk mengerjakan sendiri proyek tersebut dengan alasan mereka bisa melakukan hal yang lebih baik dari pada membayar seorang arsitek yang kualitasnya tidak terjamin. Maka larislah yang disebut pinjam nama atau pinjam bendera. Jumlah uang yang lumayan didapat oleh pengelola yang diam-diam merangkap bertugas sebagai arsitek, kemudian mengundang rasa ingin melakukan hal yang sama oleh pengelola dengan disiplin keilmuan lain. Mereka tinggal mencari siapa yang bisa diminta untuk melakukan pekerjaan arsitek sesuai dengan keinginan proyek. Cukup membayar mereka yang mau bekerja dengan tarif per lembar gambar. Konsep desain tinggal jalan-jalan di kota atau buka-buka majalah arsitektur, mencontoh, kemudian menyesuaikan sedikit jadilah sebuah desain menurut mereka. Tak ada yang salah, bahkan bila judul proyek dapur kering diterjemahkan sebagai dapur tanpa air! Pengelola bisa mendapatkan jumlah uang yang lumayan, si arsitek dengan system komputerisasi juga tidak memerlukan energy yang banyak untuk berpikir karena tinggal kopas alias copy paste sesuai keinginan pemesan. Tak ada aturan yang bisa menilai baik buruk suatu desain sehingga harus dibayar berbeda. Semua dinilai berdasarkan persentase dari uang yang dikelola, karena peraturan negara diterjemahkan demikian.

Cerita di atas menunjukkan kepada kita betapa degrasi fungsi dan mutu arsitek sudah demikian parah. Jabatan arsitek tidak lagi diartikan sebagai suatu martabat atau peluang mendapatkan kehormatan. Suatu ketika saya terperangah karena desain saya tiba-tiba muncul di tempat lain di sebuah lokasi yang hanya berjarak sekian ratus meter dari desain saya. Saya tahu pemilik bangunan tersebut adalah kalangan yang luar biasa kaya. Saya heran karena selera mereka terbatas hanya ingin mencontoh seperti karya cipta orang lain dan tidak mau menyediakan waktu dan tentu saja dana untuk mendapatkan hal yang spesifik bagi mereka. Atau kalau mereka suka desain saya, mengapa mereka tidak menghubungi saya untuk meminta izin. Saya tidak menggunakan apologi mungkin mereka tidak tahu, karena mereka merupakan komunitas yang sangat berpendidikan, setidaknya dari kumpulan ijasah yang mereka miliki. Inilah masalah utama yang dihadapi dunia desain. Pekerjaan arsitektur hampir selalu bersentuhan dengan orang-orang berduit dan tidak semua merasa rela untuk membayar sesuatu yang menurutnya bisa didapatkan dengan gratis tanpa takut kena sanksi tuduhan plagiat. Bahkan banyak di antara mereka menganggap arsitek dibayar hanya untuk menggambar keinginan mereka membuat seperti apa yang mereka lihat di tempat lain. Karena hal ini umum terjadi, kemudian menjadi sesuatu yang biasa. Karena itu tidak ada yang aneh ketika seseorang yang saya sebutkan di awal tulisan ini juga merasa bisa mendesain. Baginya desain itu tinggal mengisi ruang-ruang kosong pada template yang ada di komputer. Dia tidak tahu kalau desain itu bukan sekedar corat-coret garis semata.

Dalam desain arsitektur ada pemikiran fungsi, teknologi dan estetika, konsep yang akan menjadi satu kesatuan bagi terciptanya roh sebuah karya cipta manusia. Ketiadaan konsep ini akan menghasilkan relung-relung yang kosong bagi lingkungan buatan. Tengoklah rumah-rumah mewah bergaya minimalis yang lagi trend untuk mereka yang perilakunya penuh dengan kemubaziran. Minimalis menuntut hanya membuat hal-hal yang punya fungsi. Karena itu setiap komponen dalam desain jelas dibuat untuk apa. Minimalis tak membutuhkan hiasan yang tak jelas gunanya. Karena itu desain minimalis selalu efisien dan efektif dan hanya cocok untuk mereka yang punya perilaku demikian. Desain minimalis tak mungkin membahagiakan mereka yang memiliki puluhan atau ratusan lembar pakaian yang tak pernah disentuh pemiliknya. Minimalis tak akan membuat dapur yang dilengkapi oleh semua peralatan masak modern bagi mereka yang tak pernah makan di rumah. Karena semua produk itu akan menyiksa pemilik yang harus kehilangan energy hanya untuk merawat barang mahal. Mereka akan kelelahan berada di ruang yang seolah minimalis. Minimalis adalah sebuah roh kehidupan bagi proses menahan diri. Hal-hal seperti ini yang diproses dalam konsep pemikiran seorang arsitek.

Berapa banyak di antara kita dalam menjalankan tugas selalu memasukkan unsur pemilik atau pengguna menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam desain kita? Tentu dengan tujuan agar desain kita menjadi spesifik sesuai dengan karakter mereka dan membuat mereka punya sensasi memiliki produk tersebut. Bila seorang yang menyatakan diri sebagai seorang arsitek tidak melakukan kontemplasi atau perenungan mendalam untuk menghasilkan filosofi dari sebuah karya cipta, sebagai arsitek kita tidak boleh marah bila persepsi masyarakat terutama yang berduit menganggap profesi arsitek ternyata bukan sesuatu yang istimewa karena bisa dilakukan oleh setiap orang tanpa memerlukan pendidikan keahlian. Tak ada mimpi atau kekaguman lagi membayangkan bagaimana para maestro meletakkan jejak berpikir bagi kita generasi yang muncul ratusan tahun sesudahnya. Dan ketika itu terjadi, arsitek tak lebih dari sekedar tukang gambar bagi masyarakatnya!

Makassar, 21 Juli 2010

Nama

Email

Komentar

  CAPTCHA code

Masukkan kode diatas