Padewakang, perahu yang \\\"berlayar\\\" hingga Belgia

“Mereka dan perahunya sangat luar biasa” mungkin demikian kurang lebih komentar pengunjung yang terpukau ketika melihat perahu padewakang yang dibangun dan dirakit “live” oleh pengrajin dari Bulukumba dan dipamerkan di museum La Boverie, Liege, Belgia hingga 21 Januari 2018.

Memang, perahu padewakang ini menjadi wakil perahu dari banyak jenis perahu Indonesia dan menjadi pusat daya tarik dari Indonesia setelah terpilih sebagai “guest country” atau negara tamu dalam pameran di ajang Europalia Arts Festival 2017. Sebagai salah satu negara kepulauan yang besar, Indonesia menjadi negara tamu keempat yang diundang ke Festival ini setelah China, India dan Jepang.

Sebelum dibawa ke Belgia, badan (body) perahu padewakang sebelumnya telah di “assembly” atau dirakit oleh beberapa pengrajin kapal kayu di bawah pengawasan Haji Jafar, seorang Panrita Lopi (pembuat kapal kayu) di Bulukumba. Badan perahu yang sudah jadi ini kemudian di “disassembly” atau diurai menjadi komponen komponen kayu pembentuk perahu dan “berlayar” ke Belgia dalam sebuah paket udara. Total komponen kayu pembentuk perahu padewakang ini adalah lebih dari 300 dengan jumlah pasak yang lebih dari 1000 buah (Alimuddin, 2017). Di Belgia, dalam museum La Boverie yang menjadi lokasi pameran perahu padewakang ini, komponen kayu pembentuk perahu itu kemudian di “reassembly” atau di rakit ulang menjadi perahu padewakang yang utuh oleh 4 orang pengrajin kapal kayu yang turut serta ke Belgia.

Mungkin sebagian (atau banyak) dari kita yang belum “familiar” atau mengenal perahu padewakang. Tidak seperti halnya dengan kapal pinisi yang bukan saja telah dikenal di seantero dunia dan bahkan telah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia, keberadaan perahu padewakang justru tenggelam akibat metamorfosis perahu ini dalam beberapa tahap menjadi kapal pinisi. Menurut Horst Liebner seorang peneliti maritim, perahu padewakang memang adalah cikal bakal dari kapal pinisi. Perahu padewakang mulai digunakan oleh pelaut/nelayan Mandar, Makassar dan Bugis untuk mencari teripang di seluruh wilayah nusantara pada abad ke-18. Bahkan ada yang menduga bahwa perahu padewakang ini telah digunakan 1000 tahun lalu berdasarkan relief perahu di candi borobudur yang tampak seperti perahu padewakang. Terlepas dari kapan perahu ini mulai digunakan, masih menurut Horst Liebner, perahu ini bahkan telah berlayar hingga ke Australia. Baru pada sekitar tahun 1840-an, versi awal dari kapal pinisi mulai digunakan menggantikan perahu padewakang (Liebner, 2002).

Dengan panjang kurang lebih 12 meter dan lebar 3 meter serta kapasitas muat antara 10-12 metrik ton menurut salah satu pengrajin (www.thejakartapost.com, 2017), perahu ini sukses di pamerkan dan dikagumi oleh pengunjung pameran di salah satu museum di Belgia ini. Kekaguman mereka bisa disebabkan oleh beberapa hal. Yang pertama adalah metode pembangunan. Perahu padewakang ini dibangun tanpa cetak biru (blue print) desain perahu sama sekali. Selain itu, perahu ini juga hampir seluruhnya hanya terdiri dari kayu (kayu ulin dan kayu bitti) baik kulit dan kerangka perahu maupun pasak yang menghubungkan antara kayu. Selanjutnya, perahu ini dibangun dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana serta para pengrajin kapal kayu ini tidak pernah mendapatkan pendidikan formal atau nonformal untuk membangun kapal kayu dan hanya mengandalkan keahlian turun temurun dari pembangun kapal kayu sebelumnya. Kemudian yang terakhir dan yang menjadi pembeda utama karena keluar dari metode pembangunan kapal umumnya adalah perahu ini dibangun dari lunas, kulit kapal dan kemudian gading (kerangka kapal).

Bandingkan dengan pengrajin/pembuat kapal kayu di benua Eropa sana yang dalam membuat kapal atau bahkan perahu sekalipun harus berdasarkan pada sebuah desain kapal/perahu yang sudah jadi, menggunakan peralatan modern dan umumnya mereka pernah mendapat pendidikan formal atau nonformal pembangunan kapal kayu. Kemudian kebiasaan membangun kapalnya adalah kebiasaan umum yang juga diterapkan di seluruh dunia yang membangun kapal dari lunas, gading dan baru kulit kapal.

Dari padewakang ini, kita (bangsa Indonesia) sebenarnya bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga. Terkadang kita merasa rendah diri dan merasa tertinggal dibanding bangsa lain di dunia. Namun sebagai bangsa yang besar, banyak hal dari bangsa kita yang justru menjadi decak kagum dari bangsa bangsa lain. Keberagaman budayanya, keindahan negerinya, kekayaan sumber dayanya, keramahtamahan masyarakatnya, kekayaan warisan masa lalunya, dan masih banyak lagi.

Dalam bidang pembangunan kapal kayu terutama kapal pinisi sebagai “adik” dari padewakang, walaupun tanpa desain dan hanya mengandalkan keterampilan dan warisan turun temurun, namun kepercayaan dunia akan kinerja kapal yang dibangun sangat besar. Hal ini terbukti dengan banyaknya pesanan pembangunan kapal pinisi dari luar negeri kepada pengrajin kapal pinisi di Bulukumba.

Perahu padewakang seharusnya menjadi titik penyadaran kepada kita bahwa kita adalah bangsa yang besar dan seharusnyalah kita semua bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang besar ini dan kemudian berusaha menjadikan bangsa ini “lebih besar” lagi. Saya bangga menjadi bangsa Indonesia.

Nama

Email

Komentar

  CAPTCHA code

Masukkan kode diatas    

 

Horst liebner

... perahu tradisional tidak dibangun begitu saja, tetapi DENGAN MENGGUNAKAN BLUE PRINT; Namanya 'tatta'. Simaklah ini: https://www.youtube.com/watch?v=xEeUn-Z1fV4