Stephen Hawking dan Tuhan

Dalam beberapa hari terakhir, ramai pemberitaan di berbagai media tentang kematian seorang ilmuwan yang bernama Stephen Hawking. Siapa sebenarnya Stephen Hawking ini?.

Stephen Hawking adalah seorang ilmuwan dan tokoh besar yang kepakaran ilmunya bahkan disandingkan setara dengan Albert Einstein oleh sementara ilmuwan lain. Bukunya yang terkenal berjudul “A Brief History of Time” dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1988 adalah sebuah buku yang melambungkan namanya sebagai seorang pakar dalam bidang kosmologi. Buku ini menjadi the best seller selama 237 minggu berturut turut, telah diterjemahkan ke dalam kurang lebih 40 bahasa dan telah terjual satu copy untuk setiap 750 orang di muka bumi, demikian klaim Hawking sendiri pada tahun 2001.

Stephen Hawking adalah contoh hidup tentang semangat hidup yang sangat luar biasa. Pada tahun 1963 ketika ia masih berumur 21 tahun ia didiagnosis menderita sebuah penyakit neurologis Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) yang mengakibatkan badannya menjadi lumpuh. Dokter yang memeriksanya sudah memprediksi bahwa ia tidak akan berumur panjang tetapi prediksi tinggal prediksi, ia dengan semangat hidupnya yang luar biasa kemudian mengenyampingkan semua prediksi dokter tentang umurnya dan kemudian bertahan hidup hingga lebih dari 50 tahun kemudian sebelum kematian benar benar menemuinya pada usianya yang ke-76 tahun. Ia dinyatakan oleh dokter sebagai pasien penderita ALS yang paling lama bertahan hidup. 

Dalam sisa hidupnya yang panjang setelah di vonis menderita penyakit ALS, ia justru menghasilkan beberapa buku dan banyak karya ilmiah yang berkaitan dengan bidang kosmologi. Ia pulalah yang menunjukkan bahwa awal mula alam semesta adalah dari sebuah ledakan tunggal yang lebih dikenal dengan peristiwa Big Bang (Hawking, 1988). Sejalan dengan analisisnya tentang proses terjadinya alam semesta, dalam bukunya ini, ia mengajukan beberapa pertanyaan dasar tentang alasan keberadaan manusia di muka bumi ini dan mengapa alam semesta ada. Namun satu hal yang pasti, pada bukunya yang mengantar ketenarannya itu, Hawking masih menerima peran Tuhan sebagai pencipta alam semesta. 

Seiring dengan pemahamannya yang semakin dalam tentang hukum hukum fisika proses kejadian alam semesta, Hawking yang kali ini bersama dengan Leonardo Mlodinow kemudian menulis buku lain yang berjudul “The Grand Design” pada tahun 2010. Namun berbeda dengan buku sebelumnya yang masih menerima peran Tuhan sebagai pencipta alam semesta, dalam bukunya kali ini, Hawking tidak mengakui Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Dalam bukunya ini, Hawking bersama dengan Mlodinow kurang lebih menjelaskan bahwa proses pembentukan alam semesta yang bermula dari peristiwa Big Bang seperti yang dituliskan pada buku sebelumnya adalah konsekuensi dari keberadaan hukum hukum fisika dan bahwa Tuhan tidak diperlukan dan tidak terlibat dalam awal mula proses penciptaan alam semesta.

Dalam pengetahuannya, ia mungkin lupa satu hal bahwa pengetahuan akan proses terbentuknya alam semesta yang mampu untuk dicerna oleh akal manusia hanyalah setitik pengetahuan dari isi buku agung alam semesta. Ia melupakan hal itu, sehingga dengan “keterbatasan pengetahuannya” itu, ia berani mengatakan dalam bukunya “The Grand Design” bahwa Tuhan bahkan tidak dapat melakukan intervensi dalam proses kejadian alam semesta (Hawking dan Mlodinow, 2010).

Lebih jauh, dalam sebuah wawancara dengan “The Guardian” tahun 2011, Hawking menyatakan bahwa ia tidak setuju dengan keyakinan orang orang tentang alam setelah kematian dan bahwa tidak ada surga atau kehidupan setelah kematian sehingga ia tidak mengharapkan siapapun untuk menyambutnya setelah meninggal. Cerita surga dan kehidupan setelah kematian hanyalah cerita bohong bagi orang orang yang takut kegelapan, demikian katanya.

Terlepas dari apa yang diyakininya tentang kematian, sekarang dia telah mengalaminya dan kebenaran sejati tentang kematian dan alam setelah kematian telah terlihat di depan matanya.  Dia sekarang telah berada di alam barzah, sebuah alam yang berada antara alam dunia dan akhirat. Pendapatnya tentang Tuhan dan kematian telah tervalidasi kebenaran atau ketidakbenarannya hingga pada tingkatan ainul yaqin atau bahkan haqqul yaqin. Hanya saja sekarang ini, dia tidak bisa lagi melakukan analisa dan merumuskan teori dan kemudian menulis buku atau karya ilmiah yang berkaitan dengan hal itu.

Walaupun demikian, karya karyanya selama hidup di dunia yang berkaitan dengan kosmologi akan tetap bermanfaat bagi orang orang yang masih hidup karena itu semua menjadi salah satu sumber pengetahuan untuk mencoba memahami tata kerja alam semesta. Wallahu a’lam.

Nama

Email

Komentar

  CAPTCHA code

Masukkan kode diatas