Risk Perception dalam Budaya K3

Beberapa waktu lalu bertempat di Kampus II Fakultas Teknik Unhas, ada sebuah kuliah umum (public lecture) yang dibawakan oleh Prof Masao FURUSHO dari Kobe University, Jepang. Tema kuliah umumnya cukup menarik karena berkaitan dengan risk perception (persepsi resiko) di laut untuk keselamatan maritim dan perlindungan lingkungan. Walaupun materi kuliah umumnya berkaitan dengan keselamatan maritim, namun inti sari dari materi kuliahnya ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari hari.

Bagaimana bisa? Untuk bisa mengetahuinya, kita perlu tahu tentang apa itu risk perception.

Dalam kuliahnya, secara umum Prof Masao menjelaskan 4 hal yang berpengaruh dalam sebuah sistem keselamatan yang dikenal dengan 4 M yaitu Man (manusia), Machine (mesin dan peralatan), Management (manajemen) dan Media (sarana). Dari keempat unsur M ini, unsur Manajemen-lah yang meliputi dan mengatur ketiga M yang lain. Dari ketiga M yang lain itu, unsur manusia sebagai pelaksana yang memegang kendali atas sistem keselamatan itu. Nah risk perception berada dalam unsur manusia tadi.

Risk perception sendiri masih menurut Prof Masao, didefinisikan sebagai “sebuah metode untuk memprediksi resiko dalam rangka melindungi diri, keluarga, rekan kerja dan organisasi dari kejadian kecelakaan dan bencana”. Proses ketika melakukan risk perception itu terdiri dari 4 langkah. Yang pertama adalah persepsi indra (sense perception) dimana kita harus memfungsikan semua indra yang kita miliki untuk melihat, mendengar, merasa dan memperhatikan adanya potensi bahaya di sekitar kita. Setelah indra kita bekerja, maka langkah kedua adalah membuat prediksi (prediction) yang didasarkan pada persepsi bahaya yang telah diindra. Setelah itu dilakukan penilaian (judgement) untuk setiap prediksi yang kita buat. Dan terakhir adalah melakukan tindakan (action operation / handling control) berdasarkan pada penilaian yang dibuat.

Jadi hal ini berkaitan dengan kemampuan kita untuk menemukenali adanya potensi bahaya bahkan jika resikonya sangat kecil.

Langkah langkah dalam risk perception adalah untuk selalu memperhatikan bahkan untuk tanda yang paling kecil sekalipun adanya potensi terjadinya kecelakaan dan bencana. Ini sangat perlu kita lakukan jika kita ingin terhindar dari kejadian kecelakaan atau bencana. Karena tidak ada seorangpun yang tahu akan masa depan bahkan hingga beberapa detik kedepan dan jika kita bisa memperkirakan terjadinya kejadian kecelakaan dan bencana, maka kita dapat mencoba untuk menghindarinya. Inilah inti dari materi kuliah umum tentang risk perception ini.

Dalam diri kita, keempat proses risk perception ini bisa terjadi dengan sangat cepat (bahkan bisa dalam hitungan sepersekian detik). Ketangguhan kita dalam melakukan proses risk perception ini dengan cepat untuk menghasilkan sebuah action yang tepat membutuhkan waktu, pengetahuan dan pengalaman. Hal ini karena informasi yang diolah dalam akal kita bergantung pada seberapa banyak informasi pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki. Semakin banyak informasi pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki maka semakin mungkinlah kita menghasilkan action yang tepat ketika kita mengindra potensi bahaya di sekitar kita.

Sekarang bagaimana hubungannya dengan budaya K3? Erat sekali, karena filosofi K3 adalah menekankan pada tindakan pencegahan dengan selalu berperilaku berpikir terus menerus tentang bahaya dan resiko yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan di tempat kerja dan di lingkungan hidup kita sehari hari yang disertai dengan upaya pencegahan dan penanggulangannya. Sehingga jika merujuk pada filosofi K3 itu, maka bisa dikatakan, risk perception adalah penjabaran detail dari langkah menemukenali potensi bahaya dalam budaya K3.

Dalam budaya K3, perilaku penghindaran diri dari bahaya bisa dilakukan dengan memperhatikan dua penyebab umum terjadinya kecelakaan yaitu unsafe condition (kondisi lingkungan kerja dan/atau lingkungan sekitar yang tidak aman) dan yang kedua adalah unsafe action (tindakan tidak aman yang dilakukan oleh kita yang bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan).

Nah dalam budaya K3 yang detail prosesnya adalah risk perception, kita harus selalu memperhatikan kedua hal ini. Jika terdapat unsafe condition, maka jika memungkinkan segera lakukan tindakan untuk mengubah kondisinya menjadi aman tetapi jika tidak bisa, maka kitalah yang harus selalu melakukan safe action dengan selalu berperiku yang aman tidak peduli bagaimanapun kondisi yang ada sekitar kita. Tindakan aman (safe action) melalui langkah langkah dalam risk perception tetap harus selalu kita lakukan bahkan jika kondisi sekitar kita menunjukkan kondisi yang aman (safe condition) karena bisa saja orang lain disekitar kita berperilaku tidak aman yang bisa berpengaruh atau berdampak pada kita.

Risk perception adalah suatu tindakan untuk mencegah terjadinya kejadian kecelakaan bahkan untuk kejadian near miss incident (nyaris kecelakaan) dan jika kita (semua) selalu melatih risk perception kita, maka insya Allah akan tercipta suasana lingkungan yang aman dan nyaman dan bebas dari kejadian kecelakaan seberapa kecilpun resikonya. Marilah kita selalu melatih kepekaan risk perception kita karena dengan latihan itu, kita sebenarnya telah sekaligus mengasah ketaqwaan dunia kita, demikian sesuai hasil interpretasi dari penjelasan Quraish Shihab tentang taqwa.

Nama

Email

Komentar

  CAPTCHA code

Masukkan kode diatas