Kota Lama Makassar sebagai Kota Pusaka

Kota Makassar sebagai salah satu dari beberapa kota di Indonesia merupakan kota yang awalnya (abad 17) dibuat secara terencana oleh pemerintah Belanda. Perencanaan awalnya menggunakan pola konsentrik dengan zona utama adalah Benteng Fort Rotterdam yang berdampingan dengan perumahan elit, serta zona lain berupa kegiatan perdagangan dan permukiman umum. Perwujudan kota hingga saat ini memiliki karakteristik yang unik seperti guna lahan, pola jalan, maupun bentuk-bentuk bangunannya terutama di kawasan kota lama khususnya di wilayah Kecamatan Ujung Pandang dan Wajo. Kondisi kawasan tersebut merupakan kawasan kota pantai yang sangat potensil mengalami perkembangan secara sporadis akibat kompleksitas berbagai kegiatan. Kondisi ini akan berdampak buruk jika tidak ditangani secara terencana, terutama aspek pengelolaan kawasan secara efektif.

Land use kawasan kota lama Makassar sesungguhnya telah terbentuk sejak lama. Benteng Fort Rotterdam dan beberapa perumahan elit di sekitarnya berperan sebagai pusat otonomi kota dan diikuti dengan terbangunnya pelabuhan sebagai kota dagang. Ketika era pemerintahan kolonial digantikan oleh pemerintah Indonesia, peran benteng mulai tidak efektif lagi sebagai pusat kota tetapi mulai bergeser ke balai kota. Selanjutnya pada saat ini pusat kota Makassar yang menjadi pusat orientasi kota mengarah pada sekitar kawasan lapangan Karebosi.

Perkembangan kehidupan kota yang semakin kompleks ditandai dengan pertambahan jumlah penduduk yang semakin meningkat setiap tahun. Penduduk kota Makassar  pada masa colonial tercatat sebanyak. Berdasarkan hasil sensus tahun 1930, penduduk kota Makassar mencapai lebih dari 84.855 jiwa (Milone,1966 dalam Heryanto, 2015; Sumalyo, 2002). Sedangkan jumlah penduduk kota Makassar tahun 2014 sebesar 1,7 juta jiwa (BPS Kota Makassar).

Pada saat ini muncul gejala semakin tumbuhnya bangunan-bangunan modern searah dengan kompleksitas aktifitas masyarakat, dilain pihak bangunan-bangunan cagar budaya semakin hilang yang berdampak pada semakin terlupakannya makna dan warisan kawasan kota pusaka (urban heritage). Kawasan tersebut memiliki kekayaan pusaka yang berupa historical site, historical distric dan historical cultural (Shirvani, 1985). Kegiatan pembangunan kota yang terus berkembang merupakan suatu harapan, tetapi mempertahankan beberapa komponen spasial dan visual perkotaan yang bernilai pusaka merupakan sebuah keniscayaan.

Salah satu upaya pengembangan ekonomi perkotaan dalam perspektif penataan ekonomi kreatif adalah dengan melakukan kegiatan pelestarian kota pusaka yang meliputi berbagai bangunan warisan budaya di kawasan tersebut. Tatanan ini menjadi penting karena adanya kecenderungan hilangnya aset warisan budaya perkotaan seperti di kawasan pesisir kota lama Makassar. Perkembangan aset budaya ini membutuhkan penciptaan ruang/spasial sebagai wadah aktifitas budaya yang berkekuatan dalam memberikan peningkatan terhadap kualitas kehidupan masyarakat (Tajuddin, 2003). Perkembangan perkotaan yang sporadis cenderung melupakan makna-makna pusaka unik yang telah di perjuangkan dan dibangun oleh pendahulu kita, yang tak kalah menariknya dengan bangunan penggantinya. Tatanan kota yang telah terbentuk sepantasnyadilestarikan atau ditingkatkan vitalitasnya. Pola perubahan land use dan jaringan jalannya dari masa ke masa merupakan perkembangan yang menarik untuk dikaji lebih mendalam, begitu pula jika dikaitkan dengan faktor-faktor apa yang mempengaruhi atau memotivasi perkembangannya. Hal tersebut dapat menjadi dasar filosofi dalam perencanaan kota akan datang.

 

Nama

Email

Komentar

  CAPTCHA code

Masukkan kode diatas