Prinsip-Prinsip Perancangan Kawasan Tepi Pantai

Isfa Sastrawati
Departemen Pengembangan Wilayah dan Kota
Fakultas Teknik UNHAS

Pendahuluan
Tepi pantai didefenisikan sebagai daerah yang berbatasan antara tepian laut dengan daratan, yang terkait dengan keragaman ekologi dan kepentingan ekonomi. Permasalahan yang sering terjadi dalam merancang kawasan tepi pantai adalah:

1. Akses umum, utamanya jalur pejalan tidak tersedia atau tidak kontinyu secara menerus di sepanjang tepi pantai.
2. Konflik penggunaan area publik tepi pantai. Terkadang, area pantai yang difungsikan sebagai ruang publik hanya sedikit atau terbatas. Perlu dibuat zona penggunaan lahan yang mempertimbangkan kegiatan yang ada berdasarkan ketergantungn terhadap air laut.
3. Dampak pembangunan kawasan tepi pantai berpotensi terjadinya permasalahan lingkungan seperti polusi air laut, Intrusi, perubahan kontur, erosi, bahkan punahnya flora dan fauna setempat.

Penggunaan Kawasan Tepi Pantai
Tepian air seperti pantai berpotensi menjadi suatu kawasan yang strategis untuk dikembangkan sebagai kawasan yang livable dan menjadi tempat bersosialisasi bagi warganya. Pantai merupakan area yang istimewa sehingga dibutuhkan kebijakan atau peraturan yang khusus bagi keberlanjutan lingkungan atau konservasi, pelestarian budaya masyarakat setempat, keberlanjutan aktivitas dan kepentingan visual sebagai aset publik. Pembangunan di kawasan ini dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk menikmati dan beraktivitas di pantai seperti: memandang panorama terbitnya atau terbenamnya matahari, rekreasi, piknik, jogging, berolahraga, berenang, berjemur, berlayar, memancing, menyelam, snorkelling, dsb. Dengan beragamnya potensi kegiatan yang dapat terwadahi di kawasan tepi pantai, pembangunan di kawasan ini perlu dikendalikan dengan prinsip-prinsip perancangan kawasan tepi pantai.


Prinsip-Prinsip Perancangan Kawasan Tepi Pantai
Prinsip-prinsip perancangan disusun untuk menata suatu kawasan yang livable, beridentitas, berkelanjutan. Prinsip perancangan kawasan tepi pantai disusun dengan pertimbangan pemenuhan kebutuhan penduduk akan ruang public, jalur pejalan, pemandangan, potensi-potensi dan keunikan wilayah setempat. Prinsip-prinsip ini dapat menjadi panduan pada penataan kawasan tepi pantai terutama yang berfungsi sebagai ruang publik. Prinsip-prinsip ini disusun tidak hanya berdasarkan efesiensi fungsi lahan, akan tetapi juga mempertimbangkan karakter fisik kawasan, kondisi lingkungan alami, dampak terhadap pembangunan, masalah yang telah ada. Prinsip-prinsip perancangan kawasan tepi pantai berdasarkan isu-isu di kawasan tepi pantai dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 1. Prinsip Perancangan Kawasan Tepi Pantai

1.Aksesibilitas

  • Akses Publik
  • Jenis Kendaraan 
  • Public access must be provide to and along the shoreline expect where the interest of security, safety, or protection of coastal predominant
  • Where possible, suitable access to the shoreline should be provide for disabled persons
  • Alternative modes of transport such as bicycling and rollerblading should be given

2.Keselamatan

  • Ruang Parkir
  • Bangunan
  • Lansekap Breakwater/seawall
  • Pertandaan dan Perabot jalan
  • Setback could be use as green belt area or public area
  • Car parks and roads should be minimised in sensitive coastal environment
  • Construction of structure/building should result in minimal change to the natural topograph (contour) except for drainage pattern. Structures should be designed to minimise cut and fill, can couse considerable problems with soil erosion in unstable sandy coastal soils
  • Vegetation shoud be protected during construction to minimise unnecessary loss
  • It is necessary to control erosion where it threatens development such as buildings or roadways on the coast, sheltered boat mooring, piers, jetties and structures associated with navigation is often necessary.
  • Signage and street furniture should be designed to avoid injury to pedestrians, joggers, and cyclists. This has clear implication for the height and location of the signage

3.Kenyamanan

  • Pertandaan dan Perabot jalan
  • Landscape
 
  • Signage and street furniture should be provide for accommodating the pedestrians
  • Signage should be clear and informative but generally unobstrusive
  • Negetation should be used to sreen from climate, salt laden winds.

4. Estetika

  • View
  • Jembatan/titian
  • Bangunan Landscape
  • Utilitas
  • Minimise visual blocking by and from the structure, including the views for road-users
  • Bridges can be aesthetically pleasing element, they can be used to support vehicle, pedestrian and boat movement under bridge.
  • Structures should’t impair existing views to the water or along the coast and should enrich views to and from the coast.
  • The durability of materials in the coastal environment is determined particularly by their resistance to wind, salt spray and sand balsting.
  • Landscape design should maintain and enhance the existing coastal character of the area as existing landfrom, vegetation and materials
  • Utility services should be unobstrusive and wherebale possible, underground.

5.Kesempatan bekerja

  • Kios (PKL)

  • The kiosk (PKL) should be given opportunity to sell their goods, related with recreation activity and controlled by strict regulation.

  

Referensi
Breen, A. & D. Rigby. 1996. The New Waterfront, A Worldwide Urban Success Story. New York: McGraw Hill.
Carr, S., M.Francis, L.G.Rivlin, A.M.Stone. 1992. Public Space. USA: Cambridge University Press
Isfa Sastrawati. 2003. Prinsip Perancangan Kawasan Tepi Air (Kasus: Kawasan Tanjung Bunga). Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 14 No. 3. Bandung.
O’Brien, C. 1997. From, Function and Sign: Signifying the Past in Urban Waterfront Regeneration. Journal of Urban Design, Vol. 2 No. 2, Carfox Publishing Ltd, UK.
Wreen, Douglas M., et.al. 1983. Urban Waterfront Development. Washington: ULI.
Torre, L. Azeo. 1989. Waterfront Development. New York: Van Nostrand Reinhold.
Tsukio, Yoshio. 1984. The Significance of Contemporary Waterfront Development. Journal of Process Architecture, No. 52, Marumo Planning Co. Ltd, New York..

Kata Kunci:
Prinsip perancangan, kawasan tepi pantai, panduan, fungsi lahan

Sumber Utama Tulisan:
Isfa Sastrawati. 2006. Coastal Area Design Principles. The 7th International Seminar on Sustainable Environment & Architecture (SENVAR 7), 20-21 November 2006, Hasanuddin University, Makassar – Indonesia.


Isfa Sastrawati. 2003. Prinsip Perancangan Kawasan Tepi Air (Kasus: Kawasan Tanjung Bunga). Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 14 No. 3. Bandung.

 

 

Nama

Email

Komentar

  CAPTCHA code

Masukkan kode diatas