default avatar

Judul Penelitian :

Kenyamanan Termal Adaptif pada Ruang Kelas Sekolah Dasar di Wilayah Pesisir

Abstrak

Penelitian ini adalah penelitian di bidang arsitektur kekhususan bidang sains dan teknologi bangunan dengan menitikberatkan pada pengkajian kenyamanan termaladaptif pada ruang kelas sekolah dasar di wilayah pesisir. Penelitian ini mengkaji hubungan antara kondisi iklim lingkungan di wilayah pesisir Sulawesi Selatan terhadap tingkat penerimaan termal murid, hubungan antara kenetralan kondisi termal (thermal neutrality), keterterimaan kondisi termal (thermal acceptability), dan preferensi kondisi termal (thermal preference) pada ruang kelas di wilayah pesisir. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey analisis sebagai bagian dari metode penelitian kuantitatif. Data kuantitatif yang diukur berupa data dari pendekatan heat balance oleh Fanger yaitu data lingkungan fisik indoor, sedangkan untuk data fisik lingkungan outdoor diukur di lapangan untuk melengkapi data dari BMKG setempat. Variabel bebas dari penelitian ini adalah empat parameter lingkungan. Parameter lingkungan berupa suhu, kelembaban, mean-radiant temperature (MRT), dan kecepatan udara. Sedangkan variabel terikat adalah kenyamanan termal adaptif dan perilaku adaptif penghuni sebagai responden dalam menjawab kenyamanan termal individu. Kenyamanan termal adaptif dalam hal ini kenetralan termal, keterterimaan termal dan preferensi termal penghuni. Variabel moderator merupakan variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat (memperkuat atau memperlemah). Umur, berat badan, dan jenis kelamin murid dijadikan sebagai variabel moderator berdasarkan teori yang telah dikaji. Survei akan dilakukan untuk memperoleh data kondisi murid yang meliputi: data personal (pakaian dan metabolic rate) dan pengukuran parameter lingkungan: temperatur udara, kelembaban udara, mean radiant temperature (MRT) dan kecepatan aliran udara. Pada saat yang bersamaan murid akan diminta mengisi kuisioner yang menanyakan tingkat kenyamanan yang dirasakan penghuni dengan menggunakan metode Thermal Sensation Vote (TSV) dan Thermal Comfort Vote (TCV). TSV diukur menggunakan skala ASHRAE, sedangkan TCV diukur menggunakan skala BEDFORD. Selain itu responden diminta pula untuk memberi pendapat tentang kondisi termal yang diinginkan (thermal preference), apakah lingkungan termal pada saat itu dapat diterima atau tidak. Hasil pengukuran parameter lingkungan akan dijadikan referensi untuk menghitung Predicted Mean Vote (PMV), Operative Temperature (OT) dan Predicted Percentage of Dissatisfied (PPD). Hasil perhitungan ini akan dibandingkan dengan kenyamanan yang dirasakan oleh pengguna ruangan. Selanjutnya dilakukan pembuatan model kelas berdasarkan kenyamanan termal yang telah diperoleh dari hasil survei. Setelah itu, penelitian akan dilanjutkan dengan metode simulasi komputer. Berbagai model ruang kelas dengan sistem ventilasi alami akan disimulasikan. Kegiatan ini akan mendapatkan model ruang kelas dan sistem ventilasi alami yang sesuai dengan preferensi dan kenyamanan termal murid/siswa sekolah di wilayah pesisir Sulawesi Selatan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan rujukan bagai mahasiswa dan peneliti untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam hal masalah kenyamanan termal adaptif di wilayah pesisir serta memberikan referensi terkait dengan standar kenyamanan termal bagi orang Indonesia yang dapat digunakan bagi para praktisi di bidang arsitektur dalam mendisain bangunan.