Fakultas Teknik Unhas Jadi Pusat Kompetisi KJI XXI dan KBGI XVII 2026, Dorong Inovasi Konstruksi Nasional
GOWA, 23 Oktober 2026 – Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (FTUH) menjadi salah satu pusat utama penyelenggaraan Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XXI dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) XVII Tahun 2026. Melalui pemanfaatan fasilitas akademik dan ruang pengujian di lingkungan Fakultas Teknik, kompetisi nasional ini menghadirkan ruang bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menguji gagasan, keterampilan rekayasa, serta inovasi dalam pengembangan infrastruktur yang berkelanjutan dan tangguh terhadap bencana.
Diselenggarakan pada 18–23 Oktober 2026, KJI XXI dan KBGI XVII mempertemukan 34 tim peserta dari berbagai perguruan tinggi dalam empat kategori kompetisi. Fakultas Teknik Unhas berperan penting dalam mendukung pelaksanaan rangkaian kegiatan melalui penggunaan Sport Hall FTUH, Student Center FTUH, serta fasilitas CSA dan COT FTUH. Sementara itu, Auditorium Prof. A. Amiruddin Fakultas Kedokteran Unhas juga menjadi salah satu lokasi kegiatan.
Kehadiran kompetisi ini di lingkungan FTUH tidak hanya memperlihatkan kesiapan fasilitas perguruan tinggi dalam mendukung kegiatan akademik berskala nasional, tetapi juga menegaskan peran fakultas teknik sebagai ruang pembelajaran rekayasa yang menghubungkan teori, perancangan, eksperimen, dan evaluasi kinerja struktur.
Fasilitas FTUH Mendukung Proses Rekayasa dan Pengujian
Sport Hall FTUH dimanfaatkan sebagai lokasi perakitan dan pengujian model jembatan dalam KJI. Pada kompetisi ini, peserta ditantang merancang jembatan yang memiliki kinerja optimum, efisien, ramah lingkungan, serta mempertimbangkan kearifan lokal. Dua kategori yang dipertandingkan adalah Jembatan Model Pelengkung dan Jembatan Rangka Baja Berskala, dengan total 18 tim peserta.
Sementara itu, Student Center FTUH digunakan untuk mendukung pelaksanaan kompetisi bangunan gedung. KBGI XVII mengangkat tema “Bangunan Gedung Tangguh Bencana untuk Akselerasi Rekonstruksi Pascabencana Nasional.” Kompetisi ini diikuti 16 tim dalam dua kategori, yakni model bangunan delapan lantai dengan struktur baja dan model bangunan delapan lantai menggunakan beton bertulang pracetak.
Penggunaan fasilitas FTUH memungkinkan mahasiswa menjalani tahapan kompetisi yang menyerupai proses rekayasa di dunia profesional. Peserta tidak hanya dituntut menghasilkan desain yang menarik, tetapi juga harus membuktikan bahwa rancangan mereka dapat dirakit, memenuhi kriteria teknis, serta menunjukkan performa sesuai ketentuan kompetisi.
Fasilitas CSA dan COT FTUH turut digunakan untuk mendukung sesi presentasi. Pada tahap ini, peserta memaparkan pendekatan desain, dasar perhitungan, pilihan material, metode konstruksi, serta pertimbangan teknis yang mendasari rancangan mereka. Proses tersebut menguji kemampuan mahasiswa dalam mengomunikasikan keputusan rekayasa secara sistematis dan mempertanggungjawabkannya di hadapan tim penilai.
Menguji Inovasi, Efisiensi, dan Ketangguhan Struktur
Nilai penting KJI dan KBGI terletak pada proses pembelajaran berbasis pengujian. Dalam rekayasa struktur, rancangan yang terlihat baik secara visual belum tentu memberikan kinerja optimal ketika menerima beban. Karena itu, peserta harus mempertimbangkan hubungan antara bentuk, material, sambungan, stabilitas, metode perakitan, dan perilaku struktur secara keseluruhan.
Dalam KJI, tantangan perancangan jembatan mendorong peserta memahami bagaimana konfigurasi struktur dan penggunaan material memengaruhi kemampuan jembatan menahan beban. Efisiensi menjadi salah satu pertimbangan penting: struktur harus mampu memenuhi kebutuhan kinerja tanpa penggunaan material yang berlebihan.
Adapun KBGI memberikan penekanan pada ketangguhan bangunan terhadap bencana, terutama melalui pengujian menggunakan shaking table atau meja getar. Pengujian ini memungkinkan respons model bangunan terhadap gerakan dinamis diamati berdasarkan ketentuan kompetisi. Aspek yang menjadi perhatian meliputi kinerja struktur, respons terhadap gempa, kestabilan, efisiensi material, kualitas sambungan, serta metode konstruksi.
Pendekatan tersebut memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk memahami bahwa bangunan tahan gempa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan material. Sistem struktur, detail sambungan, distribusi beban, dan konsistensi pelaksanaan konstruksi juga berpengaruh terhadap kemampuan bangunan merespons gaya gempa.
Memperkuat Peran FTUH dalam Pendidikan Rekayasa
Penyelenggaraan KJI XXI dan KBGI XVII di Universitas Hasanuddin menjadi kesempatan untuk mempertemukan pembelajaran akademik dengan tantangan rekayasa yang bersifat praktis. Bagi FTUH, dukungan terhadap kegiatan ini memperlihatkan bagaimana fasilitas kampus dapat dimanfaatkan sebagai ruang eksperimen, kolaborasi, pertukaran gagasan, dan pengembangan kompetensi calon insinyur.
Melalui tahapan pertemuan teknis, presentasi, tanya jawab, perakitan, dan pengujian, mahasiswa berhadapan dengan proses yang menuntut ketelitian, kreativitas, kerja sama tim, serta kepatuhan terhadap aspek keselamatan kerja. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan pemecahan masalah yang dibutuhkan untuk menghadapi persoalan infrastruktur di masyarakat.
Dalam pengantar panduan kegiatan, Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menyampaikan bahwa penyelenggaraan kompetisi ini merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab untuk berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi di bidang konstruksi dan infrastruktur. Pelaksanaannya diharapkan berlangsung secara profesional, objektif, dan menjunjung tinggi sportivitas.
Rangkaian KJI XXI dan KBGI XVII Tahun 2026 mencapai puncaknya melalui pengumuman pemenang yang berlangsung di Sport Hall Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin pada 22 Oktober 2026. Dalam kompetisi yang diikuti 34 tim dari 18 perguruan tinggi tersebut, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) meraih gelar Juara Umum KJI XXI, sedangkan Universitas Sebelas Maret (UNS) menjadi Juara Umum KBGI XVII.
Pada KJI XXI, kategori Jembatan Model Pelengkung menempatkan Tim Jayawardhana dari UNY sebagai Juara I, disusul Tim Villakarya dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai Juara II dan Tim Semetric dari Universitas Brawijaya sebagai Juara III. Tim SAFIQ dari Universitas Hasanuddin meraih Juara Harapan I, sementara Tim Daruslan dari Universitas Gadjah Mada memperoleh Juara Harapan II.
Pada kategori Jembatan Model Rangka Baja Berskala, Tim Tatrahetsa dari Universitas Muhammadiyah Malang meraih Juara I. Posisi Juara II diraih Tim Kastara dari Universitas Brawijaya, sedangkan Juara III diraih Barakka Team dari UNY. Hasil tersebut memperlihatkan persaingan inovasi antarmahasiswa dalam menghasilkan rancangan jembatan yang memperhatikan kekuatan struktur, efisiensi material, serta metode konstruksi.
Sementara itu, pada KBGI XVII kategori Model Bangunan Gedung Baja, Tim Carrera dari UNS meraih Juara I, diikuti Tim ZEN HORIZON dari Politeknik Negeri Jakarta sebagai Juara II dan ADHEG TEAM dari Universitas Negeri Malang sebagai Juara III.
Untuk kategori Model Bangunan Gedung Beton Pracetak, Juara I diraih Tim Akral Amara dari Politeknik Negeri Malang. Tim Durbatos dari ITS menempati Juara II, sedangkan Tim Nata Bangun Karya dari UNS meraih Juara III. Hasil ini menegaskan pentingnya inovasi desain, ketepatan implementasi, dan kinerja struktur dalam pengembangan bangunan yang tangguh terhadap bencana.
Selain penghargaan utama, sejumlah tim juga memperoleh penghargaan khusus atas keunggulan desain dan pelaksanaan konstruksi. Pada KJI, Tim Semetric dari Universitas Brawijaya meraih penghargaan Metode Konstruksi Terbaik dan Jembatan Terindah untuk kategori pelengkung, sedangkan Tim Kastara dari universitas yang sama memperoleh penghargaan serupa pada kategori rangka baja. Pada KBGI, Tim Carrera dari UNS memperoleh penghargaan Kinerja Seismik dan Metode Pelaksanaan Konstruksi pada kategori bangunan gedung baja.
Bagi Fakultas Teknik Unhas, penyelenggaraan kompetisi ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk mendukung agenda rekayasa nasional melalui fasilitas Sport Hall, Student Center, CSA, dan COT, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan pertukaran pengetahuan antarkampus. Capaian Tim SAFIQ sebagai Juara Harapan I kategori Jembatan Model Pelengkung turut menandai partisipasi mahasiswa Unhas dalam kompetisi tersebut. Ke depan, pengalaman penyelenggaraan dan keikutsertaan ini diharapkan menjadi dorongan bagi penguatan budaya inovasi serta peningkatan prestasi mahasiswa FTUH pada kompetisi rekayasa tingkat nasional.
Melalui dukungan fasilitas Fakultas Teknik, KJI XXI dan KBGI XVII Tahun 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai ajang kompetisi mahasiswa, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang mendorong lahirnya gagasan konstruksi yang lebih efisien, berkelanjutan, dan tangguh terhadap bencana. Pengalaman merancang dan menguji struktur secara langsung menjadi bekal bagi calon insinyur untuk berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur nasional yang aman, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.



