Pakai Kereta Gantung, Makassar Bebas Macet
CELEBESONLINE (Makassar):
http://www.celebesonline.com/2014/11/29/pakai-kereta-gantung-makassar-bebas-macet/
Teknik Unhas dan perusahaan Austria, Doppelmayr, melakukan kajian akademik tentang penggunaan kereta gantung di Makassar sebagai kota metropolitan. Diskusi yang berlangsung di ruang sidang Fakultas Teknik Unhas itu dihadiri 20 Doktor bidang transportasi, teknik mesin, arsitektur, dan elektro.
Diskusi yang berlangsung terarah itu dipimpin Dekan Fakultas Teknik Unhas Dr-Ing Wahyu H Piarah. Menurut Wahyu, penggunaan kereta ini tidak merusak struktur histori dari suatu kota, keasrian jalanan yang tumbuh di Makassar dapat dilihat dari udara. Selain itu, diskusi ini dihadiri pula oleh sekretaris umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Dr Isran Ramli. Sedang dari Austria, melalui perusahaan Doppelmayr, yang memasang kereta gantung di Singapura dipimpin oleh Dr Markus Hagspiel.
Menurut Markus, dengan kereta gantung dapat diangkut 10 ribu penumpang per jam, hal ini setara dengan 2.000 kendaraan pribadi, 100 bus besar. Dengan demikian hanya dengan satu set kereta gantung maka dapat mengurangi kemacetan, tidak merusak lingkungan berujung ke ecogreen-city.
Dari hasil diskusi itu terkuak beberapa hal antara lain, kereta gantung hampir tidak memakan lahan. Artinya, sangat sedikit lahan dibutuhkan, tidak perlu pelebaran jalan dimana ongkos pembebasan lahan yang semakin mahal dikota Makassar. Kereta gantung juga dapat berfungsi sebagai ‘link connection’ untuk melengkapi transportasi yang ada, misalnya dari rumah sakit ke pusat perbelanjaan, koneksi antar kampus, dan lain-lain. Selain itu, minimnya energi yang dibutuhkan karena menggunakan listrik, serta bagian penutup dari kabin kereta gantung menggunakan energi matahari untuk tambahan energi. Dari pengalaman yang ada menurut Markus, hanya dengan 0,1 kWh perorang perkilometer atau setara dengan penggunanan pengering rambut (hairdryer) selama lima menit.
Di dalam kereta ini tersedia pula pendingin Udara dan Wi-fi, menunjang Makassar sebagai Smart City. Sedangkan untuk kecepatan kereta gantung adalah 30 km/jam dan masih dapat beroperasi saat angin bertiup hingga 100 km/jam.
Dalam diskusi itu, sempat disinggung mengenai keamanan, namun dari pengalaman yang ada kabel (wire), dapat bertahan selama 15 tahun dan memiliki faktor keamanan 4. Sebagai perbandingan, faktor keamanan pesawat terbang adalah 2. Secara umum kereta gantung dapat melewati segala medan, mulai kawasan hutan hingga kota yang sangat padat seperti kota London di Inggris dan Singapura. Diusulkan pula oleh peserta diskusi, agar terdapat ring road di langit kota Makassar.
Dengan adanya kereta gantung maka hampir dipastikan wisatawan dalam negeri maupun mancanegara akan berkunjung ke Makassar. Mulai dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin menuju ke pusat kota. Atau dari Karebosi, kampus Unhas, hingga ke Gowa dan Takalar. Masih dapat memungkinkan, keasrian dari kota dapat terjaga dan asri.