F a k u l t a s   T e k n i k   U n h a s
Dirham · 23 Oktober 2026

Duet Emas Guru Besar FTUH Bawa Bandara Indonesia ke Era Rendah Emisi

MAKASSAR — Masa depan bandar udara tidak lagi cukup diukur dari panjang landasan pacu, kapasitas terminal, atau jumlah penumpang. Di tengah tuntutan penurunan emisi gas rumah kaca, bandara juga harus dinilai dari kemampuannya mengelola energi secara efisien, mengintegrasikan moda transportasi, dan mengendalikan jejak karbon seluruh ekosistemnya. Gagasan strategis inilah yang mengemuka dalam duet dua Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (FTUH), Prof. Ir. Muhammad Bachtiar Nappu, S.T., M.T., M.Phil., Ph.D., dan Prof. Ir. Sakti Adji Adisasmita, M.Si., M.Eng.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN.Eng.

Keduanya tampil dalam Rapat Koordinasi Wilayah Kerja yang diselenggarakan Kantor Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah V Kementerian Perhubungan, Selasa, 20 Oktober 2026, di Ruang Phinisi 2, Hotel Claro Makassar. Forum bertema “Sinergi Transportasi Antarmoda dan Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca di Kawasan Bandar Udara” tersebut menghadirkan perspektif strategis bagi pemangku kepentingan penerbangan, pemerintah daerah, badan usaha angkutan udara, dan sektor terkait.

Transformasi Bandara Menjadi Mesin Energi Cerdas

Sorotan utama tertuju pada Prof. Bachtiar, Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Alumni FTUH sekaligus Guru Besar bidang teknik energi dan pasar ketenagalistrikan. Peneliti senior yang pernah memimpin Pusat Penelitian dan Pengembangan Energi dan Ketenagalistrikan LPPM Unhas itu memiliki pengalaman sebagai konsultan senior dalam program-program yang melibatkan Asian Development Bank (ADB), Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW) Jerman, dan United States Agency for International Development (USAID). Alumnus doktoral The University of Queensland, Australia, yang tergabung dalam kelompok universitas riset Group of Eight (Go8) tersebut, membawa perspektif sistem energi dan kebijakan yang melampaui batas sektoral.

Dalam paparan berjudul “Strategi Dekarbonisasi Transportasi Udara Terintegrasi”, Prof. Bachtiar menawarkan cara pandang yang lebih luas: bandara bukan sekadar infrastruktur penerbangan, melainkan simpul energi yang kompleks. Terminal, sistem pendingin udara, pencahayaan, kendaraan operasional, layanan darat, hingga akses transportasi penumpang membentuk satu ekosistem dengan konsumsi energi dan jejak emisi yang saling berkaitan.

Karena itu, penurunan emisi tidak cukup mengandalkan pembaruan teknologi pesawat atau penghijauan kawasan bandara. Transformasi harus menyentuh sumber energi, efisiensi fasilitas, pola operasional, serta perilaku seluruh pelaku yang terlibat. Peta jalan yang dipaparkannya menghubungkan Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca subsektor penerbangan 2025–2029 dengan ambisi net zero emission Indonesia pada 2060, melalui tiga pilar: Green Flight, Green Corridors, dan Green/Eco Airport.

Salah satu aspek paling penting adalah pengukuran emisi berdasarkan tiga cakupan atau scope. Scope 1 mencakup emisi langsung dari sumber yang dikelola, seperti genset dan kendaraan operasional. Scope 2 berasal dari konsumsi listrik yang dibeli untuk mengoperasikan terminal dan fasilitas. Sementara itu, Scope 3 mencakup emisi dalam rantai nilai yang lebih luas, termasuk siklus penerbangan, kegiatan pihak ketiga, layanan ground handling, dan perjalanan darat penumpang menuju bandara.

Dalam kerangka analisis yang dipaparkan, Scope 3 berpotensi menyumbang sekitar 90–95 persen jejak emisi kawasan bandara, jauh melampaui kontribusi Scope 1 dan 2. Angka tersebut menegaskan tantangan mendasar: pengelola bandara tidak mungkin menuntaskan agenda dekarbonisasi sendirian. Maskapai, operator layanan darat, penyewa ruang komersial, penyedia transportasi, pemerintah daerah, dan pengguna jasa harus masuk dalam kerangka tanggung jawab bersama. Otban karena itu dapat mengambil peran strategis sebagai penghubung kolaborasi, bukan hanya pelaksana fungsi pengawasan.

Dari sisi teknis, Prof. Bachtiar menempatkan efisiensi energi dan substitusi sumber energi sebagai langkah prioritas. Pilihannya meliputi pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap, penggunaan lampu LED, optimalisasi sistem pendingin udara dan chiller, serta elektrifikasi kendaraan layanan darat. Di sisi operasi penerbangan, optimasi rute, pengurangan waktu taxiing, continuous descent operations, dan peningkatan efisiensi manajemen lalu lintas udara dapat membantu menekan konsumsi bahan bakar dan emisi lokal.

Untuk transformasi jangka panjang, Sustainable Aviation Fuel (SAF) menjadi salah satu instrumen penting untuk mengurangi ketergantungan penerbangan pada bahan bakar fosil. Paparannya juga menekankan perlunya penghitungan emisi yang konsisten, manajemen energi, serta standar dan sertifikasi yang relevan. Dengan pendekatan ini, komitmen rendah karbon dapat diterjemahkan menjadi indikator kinerja yang terukur, dievaluasi, dan diperbaiki secara berkelanjutan.

Klimaks dari narasi akademis Prof. Bachtiar berpusat pada optimalisasi komoditas lingkungan yang revolusioner: Blue Carbon (karbon biru). Guna mengeliminasi sisa emisi residual (di bawah persentase 10%) untuk meraih kasta tertinggi dalam standarisasi global Airport Carbon Accreditation (ACA Level 5 Net Zero), ia menawarkan solusi alamiah (nature-based solution) dengan menjadikan ekosistem pesisir wilayah timur Indonesia terutama hutan mangrove dan vegetasi padang lamun, sebagai instrumen offset karbon lokal yang berdaya tawar di mata dunia internasional.

 

Sinergi Antarmoda Menuju Era Megacity

Sementara itu, Prof. Sakti Adji Adisasmita memperkuat agenda dekarbonisasi melalui perspektif sistem transportasi. Guru Besar bidang transportasi ini menyoroti aksesibilitas dan integrasi moda dalam pengembangan airport city atau aerotropolis. Konektivitas kereta api, bus, layanan pengumpan, dan angkutan perkotaan menjadi penting untuk memastikan perjalanan menuju bandara lebih efisien dan tidak bergantung sepenuhnya pada kendaraan pribadi.

Dalam paparannya, Prof. Sakti membedakan layanan intermoda di dalam kawasan bandara, antarmoda yang menghubungkan bandara dengan kawasan kota, dan multimoda yang menyatukan beberapa moda dalam satu rangkaian layanan. Ia mengusulkan layanan perpindahan antarmoda di dalam kawasan bandara yang gratis, pengaturan titik penghubung transportasi menuju kota dengan tarif transparan, serta penguatan kerangka multimoda melalui satu kontrak dan kejelasan tanggung jawab operator. Integrasi jaringan, pelayanan, operasi, kelembagaan, dan pembiayaan menjadi prasyarat agar pembangunan konektivitas tidak berhenti pada penambahan infrastruktur fisik.

Di sinilah duet kedua Guru Besar FTUH menemukan titik temu yang kuat. Prof. Bachtiar mengurai bagaimana energi, teknologi, dan operasi bandara dapat dikelola untuk menekan emisi; Prof. Sakti menegaskan bahwa hasilnya akan lebih optimal apabila perjalanan menuju bandara dirancang sebagai sistem transportasi yang terintegrasi. Keduanya memperlihatkan bahwa dekarbonisasi penerbangan bukan proyek tunggal, melainkan agenda lintas sektor yang membutuhkan data, investasi, koordinasi, standar, dan akuntabilitas.

Bagi Indonesia, tantangannya adalah mengubah komitmen hijau menjadi pelaksanaan yang konsisten: menetapkan baseline emisi, menentukan prioritas investasi, membagi tanggung jawab, dan mengevaluasi hasil secara berkala. Kolaborasi regulator, pengelola bandara, maskapai, pemerintah daerah, penyedia transportasi, dan kalangan akademisi akan menentukan apakah target jangka panjang benar-benar diterjemahkan menjadi aksi.

 

Arsitektur Kebijakan dari Timur Nusantara

Aksi gemilang "duet emas" guru besar andalan FTUH di forum nasional ini bukan lagi sekadar unjuk kepakaran akademis dari atas podium. Momen ini merefleksikan wujud aktualisasi peran tridharma perguruan tinggi di level puncak, yakni keterlibatan langsung mendesain arsitektur kebijakan negara. Simbiosis antara visi konektivitas multimoda mutakhir yang dibawa Prof. Sakti dengan cetak biru energi cerdas berketahanan iklim dari pemikiran Prof. Bachtiar telah melahirkan sebuah masterplan kebijakan paripurna.

 

Universitas Hasanuddin, secara khusus Fakultas Teknik kini membuktikan tajinya sebagai generator ide yang mendikte laju pembangunan infrastruktur nasional. Pemikiran strategis mereka bukan sebatas wacana teoretis, melainkan sebuah cetak biru progresif "Penerbangan Hijau" dan "Konektivitas Berkelanjutan" yang diketuk palunya di Makassar, guna menerbangkan panji Indonesia menuju fajar baru era Net Zero Emission.

Melalui sinergi pemikiran keduanya, forum Otban Wilayah V Makassar membawa pesan penting bagi masa depan penerbangan nasional: bandara berkelas dunia bukan hanya bandara yang mampu menggerakkan pesawat dan penumpang dalam jumlah besar, melainkan juga bandara yang cerdas mengelola energi, menghubungkan transportasi, dan bertanggung jawab atas jejak karbonnya.