F a k u l t a s   T e k n i k   U n h a s
Dirham · 2 Oktober 2026

FT UNHAS dan BRIN Perkuat Ekosistem Riset Kebumian Indonesia Timur Menuju Indonesia Berkelanjutan

Gowa, 30 September 2026 - Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (FT UNHAS) mendorong kolaborasi riset, inovasi, dan kemitraan industri melalui kegiatan Kuliah Umum dan Temu Bisnis bertajuk “Memperkuat Ekosistem Riset Kebumian untuk Indonesia Berkelanjutan di Indonesia Timur”. Kegiatan yang berlangsung di Lecture Theater 01 CSA Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin tersebut menghadirkan Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Ir. Dadan Moh. Nurjaman, M.T., IPU, serta sejumlah mitra industri, pemerintah, dan mitra internasional.

Kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan perguruan tinggi, lembaga riset, dunia industri, pemerintah, dan mitra internasional dalam membangun ekosistem riset yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan pembangunan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Dalam sambutan Dekan Fakultas Teknik UNHAS yang disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dr.Eng. Hendra Pachri, ST., M.Eng., disampaikan apresiasi kepada BRIN atas kehadirannya di Kampus Fakultas Teknik UNHAS. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan saat ini, khususnya dalam memahami peran BRIN serta pola kerja sama dan pemanfaatan hasil riset di lingkungan perguruan tinggi.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut. Lebih dari 250 mahasiswa hadir dan mendapatkan kesempatan untuk memperoleh wawasan langsung dari lembaga riset nasional, industri, dan para praktisi. Kehadiran mahasiswa dalam forum tersebut diharapkan menjadi pengalaman akademik yang dapat memperkuat kapasitas mereka untuk menghadapi tantangan pembangunan di masa mendatang.

UNHAS dan BRIN Perkuat Kolaborasi Riset

Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Bidang Kemitraan, Internasionalisasi, dan Kealumnian Universitas Hasanuddin, Prof. Ir. Suharman Hamzah, ST., MT., Ph.D.Eng.HsE.Cert. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Teknik UNHAS yang telah menginisiasi kegiatan tersebut.

Menurutnya, Universitas Hasanuddin memiliki sejarah kerja sama yang cukup luas dengan BRIN. Kolaborasi tersebut mencakup berbagai bidang riset yang melibatkan sejumlah pusat kajian dan riset di UNHAS. Ia mencontohkan berbagai kerja sama riset, termasuk mendalami peradaban prasejarah kawasan batuan karst Sulawesi, riset kepiting berkelanjutan, dan Perakitan Jagung Produk Rekayasa Genetik.

Khusus dalam bidang kebumian, kebutuhan riset dinilai semakin penting mengingat berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di kawasan Indonesia Timur. Di Makassar dan wilayah sekitarnya, misalnya, persoalan banjir pada musim hujan membutuhkan pendekatan berbasis kajian kebumian dan lingkungan untuk menghasilkan solusi yang lebih tepat.

Prof. Suharman juga menyinggung kerja sama Universitas Hasanuddin dengan University of Queensland, Australia, dalam pengembangan kajian tanah jarang (rare earth elements). Menurutnya, berbagai kerja sama tersebut perlu terus diakselerasi agar menghasilkan manfaat yang lebih luas.

Dalam penguatan ekosistem kolaborasi tersebut, UNHAS juga mengembangkan BRIN–UNHAS Innovation Center (BRIONIC) sebagai salah satu ruang kolaborasi untuk mempertemukan kapasitas riset, infrastruktur, sumber daya manusia, dan kebutuhan inovasi.

Indonesia Timur sebagai Laboratorium Alam Riset Kebumian

Kuliah umum yang dipandu oleh Dr. Ilham Alimuddin, ST., M.G.I.S., menghadirkan Dr. Dadan Moh. Nurjaman sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Dr. Dadan mengangkat perspektif strategis mengenai pengembangan ekosistem riset kebumian di Indonesia Timur.

Materi yang disampaikan menempatkan Indonesia Timur sebagai kawasan yang memiliki karakter geologi sangat kompleks sekaligus menyimpan potensi sumber daya dan risiko kebencanaan. Interaksi Lempeng Sunda, Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina membentuk berbagai struktur geologi seperti zona subduksi, tumbukan, sesar aktif, busur vulkanik, serta cekungan sedimenter. Kondisi tersebut menjadikan kawasan Indonesia Timur sebagai laboratorium alam yang penting bagi pengembangan riset kebumian.

Menurut materi BRIN, kompleksitas geologi tersebut menghasilkan dua kelompok potensi yang perlu dikaji secara terpadu, yakni potensi mineral dan energi serta potensi bencana geologi. Potensi mineral mencakup antara lain nikel, emas, tembaga, mineral kritis, dan panas bumi. Sementara itu, risiko kebencanaan meliputi gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, longsor, dan likuefaksi.

Karena itu, riset kebumian tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan keterhubungan antara pemetaan, eksplorasi, pengambilan sampel, analisis laboratorium, pemodelan, pengolahan data, hingga pemanfaatan hasil riset untuk mendukung kebijakan.

Dalam materi tersebut, arsitektur infrastruktur riset Indonesia Timur dirancang sebagai sebuah rantai yang menghubungkan observasi darat dan udara, survei laut, laboratorium, koleksi ilmiah, data dan High Performance Computing (HPC), serta hub regional. Wilayah Makassar, Ambon, Kupang, dan Sorong diproyeksikan menjadi simpul regional dalam penguatan ekosistem tersebut.

Riset Kebencanaan dan Pemanfaatan Sumber Daya Berbasis Data

Penguatan infrastruktur juga diarahkan untuk mendukung riset kebencanaan geologi. Infrastruktur tersebut mencakup observasi darat menggunakan GNSS, seismometer, akselerograf, tiltmeter, dan sensor longsor; observasi laut menggunakan kapal riset, Ocean Bottom Seismometer (OBS), bottom pressure recorder, buoy, ROV/AUV; serta pemanfaatan satelit dan teknologi pemetaan seperti SAR/InSAR dan LiDAR-drone.

Di sisi lain, laboratorium, fasilitas pengujian, HPC, digital twin, serta platform data terintegrasi diperlukan untuk mengubah berbagai hasil observasi menjadi informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk menghasilkan peta potensi mineral dan bahaya yang terintegrasi, model risiko, rekomendasi mitigasi, serta kebijakan berbasis bukti. Dengan demikian, investasi pada infrastruktur riset tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi harus menghasilkan manfaat yang dapat diukur bagi masyarakat.

BRIN juga menawarkan pemanfaatan infrastruktur riset melalui layanan satu pintu ELSA, yang memungkinkan akses terhadap fasilitas riset dan nonriset, termasuk laboratorium karakterisasi dan pengujian, laboratorium proses dan optimasi riset, serta kolaborasi riset dengan pusat riset dan periset BRIN.

Dalam perspektif jangka panjang, ekosistem riset kebumian Indonesia Timur diarahkan melalui tiga tahapan. Jangka pendek difokuskan pada integrasi data nasional serta penguatan agenda dan fasilitas yang telah tersedia. Jangka menengah diarahkan pada penguatan kapasitas regional, jaringan fasilitas dan laboratorium, termasuk bidang kebencanaan, mineral, dan bank sampel regional. Sementara jangka panjang diarahkan pada penguatan kemandirian strategis melalui pengembangan kapal riset geosains, observasi laut dalam, dan pemodelan digital.

Temu Bisnis Dorong Hilirisasi dan Kolaborasi dengan Industri

Setelah kuliah umum, kegiatan dilanjutkan dengan Business Meeting for Research & Innovation Based Industry 2026 yang dipandu oleh Dr.Eng. Ir. Ardy Arsyad, ST., M.Eng.Sc. Forum tersebut memperluas diskusi dari aspek akademik dan riset menuju pemanfaatan hasil riset serta pengembangan kemitraan dengan dunia industri.

Dari mitra industri, hadir Muhammad Arif, Managing Director Rohde & Schwarz, serta Jean-Philippe Thomarat, Director of Earth Observation Ground Stations, Safran Data System. Kehadiran kedua mitra tersebut memperlihatkan terbukanya peluang kerja sama pada bidang teknologi, observasi bumi, serta pemanfaatan infrastruktur dan teknologi pendukung riset.

Sesi berikutnya menghadirkan The Australian Consul General in Makassar, Ms. Sanchi Davis, dan Philippine Consulate General in Manado, Mary Jennifer Domingo Dingal, Consul General sebagai mitra luar negeri.

Pada sesi keynote speech, Ir. Teguh Iswara Suardi, ST., M.Sc., Anggota DPR RI Komisi V sekaligus Ketua Forum Insinyur Muda Sulawesi Selatan, menyampaikan perspektif mengenai pentingnya penguatan kapasitas dan kolaborasi untuk mendukung pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selanjutnya, Dr. Dadan Moh. Nurjaman menyampaikan materi “Strategi & Arah Kemitraan Infrastruktur Riset dan Inovasi menuju Indonesia Emas 2045”. Sesi tersebut memperkuat pesan bahwa infrastruktur riset perlu ditempatkan sebagai ruang bersama yang dapat dimanfaatkan secara kolaboratif oleh BRIN, perguruan tinggi, pemerintah, dan industri. Agenda tersebut tercantum sebagai bagian utama Temu Bisnis Industri Berbasis Riset dan Inovasi 2026.

PKS BRIN–FT UNHAS Perkuat Fondasi Kolaborasi

Salah satu agenda penting dalam rangkaian kegiatan adalah penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN dan Dekan Fakultas Teknik UNHAS.

Penandatanganan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi kelembagaan kerja sama antara BRIN dan Fakultas Teknik UNHAS. Kolaborasi diharapkan tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan, tetapi berkembang menjadi pemanfaatan bersama fasilitas riset, pengembangan proyek kolaboratif, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan industri.

Membuka Ruang Business Matchmaking

Rangkaian Temu Bisnis kemudian dilanjutkan dengan presentasi PT Maja Bintang (PerkinElmer) yang disampaikan oleh Muhammad Alfan Auliya, S.Si., National Sales Manager.

Dari sisi UNHAS, Prof. Ir. Muhammad Bachtiar Nappu, S.T., M.T., M.Phil., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi dan Alumni, memaparkan potensi kolaborasi riset dan pemanfaatan fasilitas yang dimiliki UNHAS.

Sementara itu, Andi Oci Alepuddin, Wakil Ketua Umum Bidang Ekonomi Kreatif KADIN Sulawesi Selatan, menyampaikan kebutuhan riset dan potensi kemitraan dengan industri. Perspektif tersebut menjadi penting dalam mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan kapasitas akademik dan riset perguruan tinggi.

Paparan berikutnya disampaikan Riki Jaka Komara, ST., MT., Ketua Tim Laboratorium Alat Survei DPLFRKST–BRIN, mengenai layanan fasilitas laboratorium pengelolaan alat survei.

Puncak Temu Bisnis ditandai dengan Business Matchmaking & Desk Eksplorasi Kerja Sama yang mempertemukan BRIN dengan pelaku industri, termasuk PT Bumi Mineral Sulawesi (Kalla Group) dan PT Telkom Satelit. BRIN diwakili Ade Purwanto, ST., M.Sc., Ketua Tim Evaluasi dan Kajian Infrastruktur Riset dan Inovasi DPKIRI–BRIN, sedangkan PT Bumi Mineral Sulawesi diwakili Marifat Pawellangi, Pimpinan PT BMS, dan PT Telkom Satelit diwakili Nugroho Wibisono, S.T., M.M., M.Kom., Senior Solution Architect.

Forum business matchmaking tersebut menjadi ruang untuk mengidentifikasi kebutuhan konkret, potensi pemanfaatan fasilitas, serta peluang pengembangan kerja sama antara riset dan industri.

Dari Riset Menuju Dampak bagi Masyarakat

Melalui kegiatan ini, Fakultas Teknik UNHAS menegaskan perannya sebagai salah satu simpul penting dalam pengembangan ekosistem riset dan inovasi di Indonesia Timur.

Kolaborasi BRIN dan UNHAS diarahkan untuk membangun sebuah ekosistem yang menghubungkan data, infrastruktur, peneliti, mahasiswa, pemerintah, industri, dan masyarakat. Dalam materi kuliah umum, model tersebut diarahkan untuk menghasilkan peta potensi mineral, model bahaya multirisiko, serta rekomendasi tata ruang dan investasi.

Lebih jauh, pendekatan tersebut menempatkan manfaat bagi masyarakat sebagai tujuan utama. Riset kebumian tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mendukung pengurangan risiko bencana, pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, penguatan industri, serta penyusunan kebijakan berbasis bukti.

Kegiatan 30 September 2026 ini dengan demikian menjadi momentum untuk memperkuat posisi Fakultas Teknik UNHAS sebagai ruang pertemuan antara keunggulan akademik, infrastruktur riset, kebutuhan industri, dan agenda pembangunan Indonesia Timur.

Ke depan, kolaborasi yang telah dibangun diharapkan berkembang menjadi berbagai program konkret, mulai dari riset multi-tahun berbasis lokasi, ekspedisi dan observasi terpadu, living lab, pengembangan sumber daya manusia, pemanfaatan fasilitas bersama, hingga pengembangan inovasi yang dapat diadopsi oleh industri dan pemerintah.

Sebagaimana pesan utama yang ditampilkan dalam materi BRIN, pengembangan riset kebumian Indonesia Timur diarahkan untuk “bangun bertahap, gunakan bersama, hasilkan dampak.” Semangat tersebut menjadi pijakan penting bagi BRIN, UNHAS, industri, pemerintah, dan mitra internasional untuk bersama-sama menjadikan riset dan inovasi sebagai instrumen pembangunan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

 

*Ditulis oleh: Dirham Abdillah*