Mengubah Limbah Jadi Berkah, Teknik Sistem Perkapalan Unhas Latih Warga Pulau Samalona Olah Minyak Jelantah Menjadi Biodiesel
Departemen Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Pulau Samalona, Kelurahan Lae-Lae, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kegiatan yang mengangkat tema “Mengubah Limbah jadi Berkah: Pelatihan Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah Rumah Tangga” ini diikuti oleh kurang lebih 10 orang masyarakat Pulau Samalona. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam memperkenalkan teknologi tepat guna yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat, khususnya masyarakat yang berada di wilayah kepulauan dan pesisir. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan minyak jelantah rumah tangga yang selama ini umumnya dipandang sebagai limbah menjadi bahan baku energi alternatif berupa biodiesel.
Materi pelatihan disampaikan oleh Ir. Suardi, S.T., M.T., dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang memiliki fokus penelitian dan pengabdian pada pengembangan biodiesel berbasis minyak jelantah. Suardi sebelumnya telah melakukan berbagai penelitian mengenai pemanfaatan Waste Cooking Oil (WCO) sebagai bahan baku biodiesel, termasuk penelitian mengenai proses produksi, karakteristik bahan bakar, serta pengaruh penggunaan biodiesel terhadap performa mesin diesel. Salah satu penelitiannya yang diterbitkan pada International Journal of Marine Engineering Innovation and Research pada 2023 membahas potensi minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel serta pengaruhnya terhadap performa mesin. Penelitian tersebut menggunakan metode transesterifikasi dengan metanol dan NaOH untuk menghasilkan biodiesel dan selanjutnya melakukan pengujian terhadap karakteristik bahan bakar serta performa mesin, seperti daya, torsi, dan konsumsi bahan bakar spesifik.
Dalam pelatihan di Pulau Samalona, masyarakat mendapatkan pemahaman mengenai potensi minyak jelantah yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif. Penyampaian materi tidak hanya menekankan aspek teknis proses pengolahan, tetapi juga memperkenalkan kepada masyarakat bahwa limbah rumah tangga dapat memiliki nilai guna dan nilai ekonomi apabila dikelola dengan tepat. Pemilihan Pulau Samalona sebagai lokasi kegiatan juga memiliki relevansi yang kuat. Sebagai wilayah kepulauan yang dihuni masyarakat pesisir, kebutuhan terhadap bahan bakar menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas sehari-hari dan kegiatan ekonomi masyarakat. Di sisi lain, minyak jelantah rumah tangga merupakan limbah yang relatif mudah ditemukan di lingkungan masyarakat.
Kegiatan ini juga dilaksanakan dalam konteks kondisi ketersediaan solar yang menjadi perhatian masyarakat. Pada Agustus 2026, sejumlah SPBU di Kota Makassar mengalami antrean kendaraan untuk memperoleh solar bersubsidi sehingga Pertamina melakukan penambahan distribusi di sejumlah SPBU. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperkenalkan berbagai alternatif energi kepada masyarakat, terutama dalam rangka meningkatkan pemahaman mengenai diversifikasi sumber energi. Melalui pelatihan ini, masyarakat Pulau Samalona tidak hanya diajak melihat minyak jelantah sebagai limbah, tetapi juga sebagai sumber daya yang berpotensi dimanfaatkan kembali. Konsep tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan ekonomi sirkular, yaitu mengubah material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai menjadi produk yang memiliki manfaat baru.
Antusiasme masyarakat terlihat selama proses penyampaian materi dan praktik pelatihan. Kurang lebih 10 orang masyarakat Pulau Samalona mengikuti kegiatan dan mendapatkan kesempatan untuk memahami tahapan pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel secara langsung. Bagi Departemen Teknik Sistem Perkapalan Universitas Hasanuddin, kegiatan ini juga menjadi bentuk penerapan keilmuan teknik perkapalan kepada masyarakat. Pengetahuan mengenai sistem permesinan dan energi yang selama ini dikembangkan dalam lingkungan akademik dapat diarahkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat pesisir.
Kegiatan “Mengubah Limbah jadi Berkah” diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan, tetapi dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan limbah rumah tangga dan pemanfaatan energi alternatif. Dengan pengetahuan yang diperoleh, masyarakat diharapkan dapat melihat peluang untuk mengembangkan pemanfaatan minyak jelantah secara lebih berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan sepenuhnya terhadap bahan bakar konvensional.