Dari Transisi Energi hingga Kepemimpinan Mahasiswa, EAST 2026 Perkuat Ekosistem Inovasi Teknik Unhas
Makassar – Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan yang adaptif terhadap tantangan global melalui penyelenggaraan Engineering Action for Society Transformation (EAST) 2026. Mengusung tema "Integrated Green Engineering Solutions for Global Resilience", kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, alumni, dan praktisi untuk mendorong lahirnya inovasi rekayasa yang mampu menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan, khususnya di bidang transisi energi dan infrastruktur hijau. Rangkaian kegiatan berlangsung pada 5–6 Juli 2026 di Unhas Hotel and Convention.
Berbeda dengan kompetisi ilmiah pada umumnya, Engineering Action for Society Transformation (EAST) merupakan ajang tahunan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin yang dirancang sebagai wadah pengembangan potensi akademik, kreativitas, dan daya saing mahasiswa di bidang sains dan teknologi. EAST tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga ruang aktualisasi diri bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis (critical thinking), pemecahan masalah (problem solving), komunikasi ilmiah, serta kolaborasi lintas disiplin dalam menghasilkan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, EAST 2026 menghadirkan dua cabang kompetisi utama, yaitu Rural Engineering Innovation Design Challenge (REIDC) dan Green Energy Innovation Paper Challenge (GEIPC). Kedua kompetisi tersebut dirancang untuk mendorong mahasiswa menghasilkan inovasi berbasis rekayasa yang aplikatif serta relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional dan isu global.
Dalam pelaksanaannya, EAST 2026 menghadirkan dua cabang kompetisi utama, yaitu Rural Engineering Innovation Design Challenge (REIDC) dan Green Energy Innovation Paper Challenge (GEIPC). REIDC merupakan ajang bagi mahasiswa untuk merancang inovasi teknologi tepat guna yang mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat, khususnya di wilayah pesisir. Kompetisi ini mendorong peserta mengidentifikasi permasalahan nyata di lapangan, kemudian menghadirkan solusi rekayasa yang aplikatif, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mengembangkan kemampuan teknis, tetapi juga memperkuat kepedulian sosial serta kemampuan merancang teknologi yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, GEIPC berfokus pada pengembangan gagasan ilmiah dan rekomendasi kebijakan di bidang transisi energi dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan. Kedua kompetisi tersebut dirancang untuk mendorong mahasiswa menghasilkan inovasi berbasis rekayasa yang aplikatif serta relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional dan isu-isu global.
Melalui GEIPC, peserta didorong tidak hanya menghasilkan karya ilmiah yang inovatif, tetapi juga menyusun solusi yang dapat mendukung kebijakan energi rendah karbon, mempercepat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), serta memperkuat kolaborasi antara akademisi muda dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor energi dan infrastruktur. Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi teknik tidak berhenti pada pengembangan teknologi semata, tetapi juga mampu memberikan kontribusi dalam penyusunan kebijakan publik dan pembangunan nasional.
Kompetisi tersebut mengangkat empat subtema strategis, yaitu Sustainable Infrastructure and Climate-Responsive Urban Development, Green Maritime and Smart Port Systems, Sustainable Earth Resources and Low-Carbon Extraction Technology, serta Smart Energy Systems and Digital-Based Energy Innovation. Keempat subtema tersebut merepresentasikan tantangan nyata yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim, meningkatkan efisiensi energi, mengembangkan infrastruktur hijau, hingga memanfaatkan teknologi digital untuk menciptakan sistem energi yang lebih cerdas dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, EAST 2026 juga menghadirkan Talkshow "Integrated Green Engineering Solutions for Global Resilience" yang menghadirkan alumni Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Nurwanti Aprilia Ningrum, S.T., sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa transisi energi bukan sekadar mengganti sumber energi fosil dengan energi terbarukan, tetapi merupakan transformasi menyeluruh terhadap sistem energi agar lebih efisien, rendah emisi, tangguh terhadap perubahan iklim, serta mampu menjamin keberlanjutan pasokan energi bagi masyarakat.
Nurwanti menekankan bahwa keberhasilan transisi energi membutuhkan kolaborasi erat antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat. Menurutnya, lulusan teknik masa depan harus memiliki kemampuan berpikir sistemik, menguasai teknologi, serta memahami aspek sosial dan lingkungan agar mampu menghasilkan solusi yang benar-benar memberikan dampak nyata.
Perspektif tersebut memberikan wawasan baru bagi peserta bahwa seorang insinyur modern tidak hanya bertugas merancang teknologi, tetapi juga berperan sebagai problem solver yang mampu mengintegrasikan inovasi, keberlanjutan, dan kebutuhan masyarakat. Inilah esensi dari konsep green engineering, yaitu pendekatan rekayasa yang mempertimbangkan efisiensi sumber daya, pengurangan emisi karbon, serta keberlanjutan lingkungan sejak tahap perancangan hingga implementasi teknologi.
Pada penutupan kegiatan, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin, Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BM(K)., memberikan apresiasi kepada seluruh panitia dan peserta atas keberhasilan menyelenggarakan EAST 2026. Ia menilai kegiatan tersebut telah menunjukkan kapasitas organisasi mahasiswa yang semakin profesional sekaligus menjadi media strategis dalam membangun budaya inovasi dan kolaborasi di lingkungan perguruan tinggi.
Prof. Ruslin juga mendorong agar EAST terus dikembangkan menjadi ajang kompetisi berskala nasional dengan melibatkan lebih banyak perguruan tinggi di Indonesia. Menurutnya, perluasan jejaring tersebut akan memperkaya pertukaran gagasan, mempercepat lahirnya inovasi lintas disiplin, sekaligus memperkuat reputasi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin sebagai pusat pengembangan talenta teknik yang unggul.
Melalui penyelenggaraan EAST 2026, Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin kembali menegaskan bahwa pendidikan teknik tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga pada kemampuan menghasilkan solusi inovatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Sinergi antara mahasiswa, dosen, alumni, praktisi, dan pimpinan universitas diharapkan mampu melahirkan generasi insinyur yang berintegritas, adaptif, dan siap menjadi motor penggerak transformasi menuju masa depan yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan.
