RAKERNAS APTARI 2026 di FT Unhas Dorong Transformasi Pendidikan Arsitektur Hadapi Era AI dan Ekonomi Hijau

Makassar — Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI) 2026 yang berlangsung pada 4–5 Agustus 2026 di Gedung CSA Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Mengusung tema “Transformasi Pendidikan Arsitektur untuk Mewujudkan Arsitek Profesional Berkarakter dan Berkelanjutan: Dari Kearifan Lokal hingga Teknologi Masa Depan”, forum nasional ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan pendidikan arsitektur untuk membahas masa depan profesi di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (AI), ekonomi hijau, perubahan kebutuhan industri, serta tuntutan pembangunan berkelanjutan. Penyelenggara Rakernas Aptari Universitas Hasanuddin ini berkolaborasi dengan Forum Perguruan Tinggi Arsitektur Sulawesi  Selatan yang diketuai oleh Dr. Ir. Ar. Edward Syarif, ST., MT., IAI.

RAKERNAS APTARI 2026 juga menjadi momentum penting karena menghadirkan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, Ph.D., sebagai pembicara utama dengan materi “Transformasi Kompetensi di Era Digital dan Ekonomi Hijau”. Dalam agenda tersebut, turut tercantum sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan sebagai tamu  antara lain Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan Indra dan Prof. Sukro Muhab; Kepala BBPVP Makassar Nasrun Ilmulla, S.E., M.M.; Wakil Rektor I Universitas Hasanuddin Prof. Drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BM(K); serta Sekretaris Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Eng. Amiruddin, S.Si., M.Si.

Turut hadir juga, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Andi Darmawan Bintang, M.Dev. P.I.G.; Ketua Pengurus Nasional APTARI Ar. Yulianto Purwono Prihatmaji, S.T., M.T., IPM., IAI. beserta jajaran; serta Dekan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Eng. Ir. Muhammad Isran Ramli, S.T., M.T., IPM., AER. beserta jajaran. Kehadiran unsur pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi, dan lembaga sertifikasi memperlihatkan luasnya ekosistem yang terlibat dalam pengembangan pendidikan dan profesi arsitektur Indonesia.

Selain itu, Ketua Dewan Arsitek Indonesia (DAI) Ar. Ahmad Saladin, IAI.; Ketua Nasional Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ar. Georgius Budi Yulianto, IAI., AA.; serta Ketua LSP Sertifikasi Arsitek Indonesia (LSP SARSI) Ar. Pierre Albyn Pongai, S.T., M.T., juga turut mengikut acara ini

AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Sekadar Menggantikan Pekerjaan

Dalam paparannya, Prof. Yassierli menjelaskan bahwa teknologi semakin mengubah cara manusia bekerja. Perubahan tersebut mendorong pergeseran dari pekerjaan rutin seperti mengolah data, mencari informasi, menyusun laporan, dan menjalankan prosedur menuju aktivitas yang membutuhkan kemampuan manusia dalam memverifikasi hasil AI, menganalisis informasi, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, berinovasi, dan berkolaborasi.

Perspektif tersebut menjadi sangat relevan bagi pendidikan arsitektur. AI semakin banyak digunakan dalam pekerjaan arsitektur, terutama untuk aktivitas berulang dan tidak kompleks seperti penulisan laporan, visualisasi awal desain, serta penyusunan dokumen penawaran. Namun, penggunaannya masih terbatas untuk pekerjaan kompleks dan berisiko tinggi, seperti pengelolaan kontrak, perhitungan biaya, dan pengelolaan biaya proyek. Adopsi AI pada firma arsitektur bahkan tercatat meningkat dari 41 persen pada 2024 menjadi 59 persen pada 2025.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tantangan pendidikan arsitektur bukan sekadar mengajarkan mahasiswa menggunakan teknologi, tetapi membangun kemampuan untuk bekerja bersama AI secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab. Arsitek masa depan perlu memiliki kemampuan teknis sekaligus kecakapan dalam membaca konteks, mengambil keputusan, berkomunikasi, dan menghasilkan solusi inovatif.

Mengatasi Skill Mismatch melalui Pendidikan Berbasis Kompetensi

Materi keynote juga menyoroti persoalan skill mismatch antara lulusan pendidikan dan kebutuhan industri. Sekitar 36,4 persen menunjukkan adanya skill mismatch, sementara sekitar 33,5 persen pekerja Indonesia mengalami vertical mismatch. Kondisi ini menunjukkan bahwa kepemilikan ijazah belum selalu menjamin kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan dunia kerja.

Karena itu, konsep skills-first labour market menjadi salah satu isu strategis. Dunia kerja semakin memberikan perhatian pada keterampilan yang dapat dibuktikan, bukan hanya gelar akademik. Pendekatan ini dapat diperkuat melalui modular learning, micro-credentials, pengakuan terhadap pembelajaran dan pengalaman sebelumnya, serta skills-based hiring.

Bagi pendidikan arsitektur, perubahan tersebut dapat diterjemahkan melalui pembelajaran berbasis proyek, penguatan portofolio, studio yang responsif terhadap kebutuhan industri, sertifikasi kompetensi, serta kolaborasi dengan dunia profesi. Perguruan tinggi dituntut tidak hanya memastikan mahasiswa memahami teori, tetapi juga memiliki kompetensi yang dapat diukur, dibuktikan, dan diterapkan dalam lingkungan profesional.

Arsitektur Masa Depan Harus Hijau dan Humanis

Transformasi pendidikan arsitektur juga tidak dapat dipisahkan dari agenda ekonomi hijau. Sektor bangunan dan konstruksi berkontribusi sekitar 37 persen terhadap emisi CO? global dan menggunakan sekitar 50 persen ekstraksi material global. Kondisi tersebut menempatkan climate literacy sebagai kompetensi penting bagi arsitek untuk menghasilkan rancangan yang mendukung keberlanjutan dan target net-zero whole-life carbon.

Pada saat yang sama, perkembangan AI justru memperkuat pentingnya human skills, seperti judgment, critical thinking, empati, kreativitas, kemampuan membangun relasi, dan adaptasi. Konsep Triple Readiness, yang meliputi technical skill readiness, human skills readiness, dan market entry readiness, menjadi kerangka untuk membangun talenta yang siap menghadapi perubahan dunia kerja.

RAKERNAS Jadi Ruang Kolaborasi Pendidikan Arsitektur Nasional

Selain keynote, RAKERNAS APTARI 2026 menghadirkan forum yang membahas peran dan kolaborasi arsitek dalam pembangunan, logika ilmiah dalam riset arsitektur, serta kemaritiman suku Bugis dalam penyebaran arsitektur. Forum kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok kerja yang mencakup MBKM, pendidikan arsitektur 5 tahun (4+1), pendidikan arsitektur 4+2, pendidikan vokasi, kurikulum dan studio, serta pengembangan keilmuan dan riset.
Pada hari kedua, agenda dilanjutkan dengan sosialisasi LAMDEPILAR, penandatanganan MoU SARSI dan PT, serta pleno hasil kelompok kerja APTARI. Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa RAKERNAS tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi diarahkan untuk menghasilkan pembahasan dan rekomendasi yang dapat memperkuat ekosistem pendidikan arsitektur Indonesia.

Bagi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, penyelenggaraan RAKERNAS APTARI 2026 menjadi momentum untuk memperkuat posisi kampus sebagai ruang kolaborasi keilmuan, inovasi, dan pengembangan kompetensi. Pertemuan antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi, lembaga sertifikasi, dan dunia kerja diharapkan dapat memperkuat keterhubungan pendidikan arsitektur dengan perkembangan teknologi, kebutuhan industri, kearifan lokal, serta agenda pembangunan berkelanjutan.

Melalui forum ini, transformasi pendidikan arsitektur diharapkan mampu menghasilkan arsitek yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berinovasi, berkolaborasi, memahami konteks lokal, memiliki kompetensi hijau, serta siap menghadapi dinamika dunia kerja masa depan. Semangat tersebut sejalan dengan peran perguruan tinggi dalam memastikan lulusan memiliki kompetensi terukur sekaligus membangun jembatan yang kuat antara kampus dan industri melalui kolaborasi kurikulum dan pembelajaran berbasis proyek.